Rabu, 27 April 2016

berbagi ilmu

TUGAS INDUVIDU
RESENSI BUKU
DIAJUKAN KEPADA: BAPAK IBI SATIBI, S. Ag, M. Ag
OLEH :LIFATIN NADA (15830049)
MAHASISWA KEUANGAN SYARIAH B 2015 FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UIN SUNAN KALI JAGA
TRAGEDI KEMANUSIAAN YANG BERSEBRANGAN DENGAN NILAI KETUHANAN



Judul               : Mencoreng Wajah Tuhan
Pengarang       : Suwito Ns
Tebal               : 216 halaman
Penerbit           : STAIN Puurwokerto Press
Tempat terbit   : Purwokerto
Tahun terbit     : 2005
Cetakan           : pertama
            Oleh karena objek pembahasan dalam buku ini adalah manusia maka yang pertama dibahasa dalam buku ini adalah awal penciptaan manusia dan hakikat manusia itu sendiri. Menurut Sartre manusia adalah makhlul yang unik dalam arti bahwa manusia memiliki kehebatan di banding makhluk lain dan Manusia adalah makhluk yang eksitensinya mendahului esensinya. Dalam islam manusia adalah makhluk ciptaan tuha ynag paling sempurna yang berperan sebagai wakil tuhan di bumi (khalifah fil ardh). Ketika berbicara tentang penciptaan manusia, Al-qur’an menyebutkan bahwa mnusia diciptakan dari tanah akan tetapi diayat lain menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari mani (sperma). Para mufassir berpendapat bahwa penciptaan manusia dari mani adalah penciptaan manusia pada generasi berikutnya.
            Manusia adalah makhluk bidimesional, yaitu makhluk yang tercipta dari dua bahan penciptaan yang secara hakiki bersifat paradoks. Paradoks mempunyai pengertian yaitu manusia tercipta dari tanah yang berkedudukan rendah dan ruh yang suci. Dengan asal muasal penciptaan yang paradoksal. Maka manusia mempunyai dua arah dan kecendrungan. Kecenderungan tersebut saling tarik menarikapakah manusia cenderung kepada tanah yang rendah atau ruh yang suci.
            Manusia mempunyai keistimewaan yang tudak diberikan oleh Allah kepada makhluk lain yaitu akal. Dari kemampuan akal muncullah pertimbangan pertimbangan (hilm) ketika dihadapkan dengan ukuran baik dan buruk dan hal lainnya. Manusia berbeda dengan malaikat dan jin, malaikat adalah makhluk yang tidak pernah membangkan dengan perintah Allah (kebaikan) sedangkan jin adalah makhluk Allah yang sellau membangkang terhadap perintah Allah (keburukan). Akan tetapi manusia bisa berkedudukan disalah satu keduanya.
            Manusia sebagai makhluk yang bertuhan mempunyai sayri’at atau rambu-rambu yang diberikan kepada manusia atas dasar kasih dan cinta tuhamn kepada-Nya. Menyia-siakan rambu ini berarti menyia-nyiakan kasih tuhan. Pembangkangan terhadap rambu-rambu larangan tuhan akan mengakibatkan “krisis multidimensi” seperti yang terjadi pada zaman modern ini yaitu busung lapar, merebaknya penyakit HIV/AIDS, musibah alam, keditak nyamanan hidup , berbagai bentuk badai dan lainnya. Hal tersebut sebagai peringatan dari tuhan atas kelalaian memelihara karunia tuhan dan sekaligus azab yang membinasakan karena melangar syari’at tuhan.
Dengan kapasitas yang dimiliki manusia Allah menturuh makhluk lainnya bersujud menghormat manusia. Mereka bersujud , kecuali iblis. Penolakan ini dikarenakan  perasaan iblis merasa memiliki kehebatan disbanding manusia pengakuan ini terdapat dalam Al-qur’an “khalaqtani min nar khalaqtahi min thin” (engkau menciptakannku dari api, sementara engkau menciptakannya dari tanah). Kesombonhan dan arogansi iblis timbul dari perasaan dan keyakinan diri atas superiotitas esensi bahan ciptaan. Bagi iblis api kelihatan lebih baik dari pada tanah. Akhirnya Allah mengusir iblis dari syurga. Terusirnya iblis dari syurga dan menjadikannya sengsara. Iblis meminta izin kepada tuhan untuk balas dendam kepada adam dan ank cucunya dan iblispun berhasil memperdaya adam  sehingga adam di usir kebumi.
Inilah awal tragedy kemanusiaan yang melanggar perintah Allah. Ketika potensi diri (nafs) itu muncul secara berlebihan akan mengakibatakan menonjolnya sifat egois . ketika sifat egois munculseseorang dapat di psatikan tidak memiliki kepedulian terhadap perintah dan larangan tuhan dan kepada orang lain. Dapat dipahami bahwa tragedy ini bermula dari pembangkangan. Ini terlihat kontras dari pembangkangan iblis yang mengakibtkan “tragedy setan” dan pembangkanga adam yang mengakibatkan tragedy “manusia”
Tragedy selanjutnya terekan dalam sejarah kemanusiaan yang disebut sebagai “peristiwa berdarah pertama” . peristiwa ini adalah peristiwa pertentangan antara habil dan qabil dalam perebutan pasangan yang akan dinikahi, karean perebutan sengketa ini selanjutnya Allah melalui ayah merek yaitu adam untuk mempersembahkan qurban . ketika keduanya mempersembahkan qurban , qurban habillah ynag diterima oleh Allah. Melihat kenyataan tersebut qabil merasa iri dan akhirnya membunuh habil. Qabil adalah symbol pembangkangan yang melahirkan egoisme.
Tragedy kemanusiaan besar pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia . Dominasi dan hegemoni politik fir’aun mengantarkan dia sebagai pemusnah kemanusiaan. Dia sebagai raja mesir yang bersifat sombong. Fira’un mendzalimi nabi musa sebagai utusan Allah dan melecehkan ayat-ayat yang dibawa nabi musa. Dalam QS 10:75 diterangkan bahwa keengganan fir’aun atas ajakan musa dan harun karena dominasi ego atas kepercayaan yang mereka kenal, dan kecurigaan terhadap kekuasaan. Fir’aun dan pengikutnya pun di beri Azab oleh Allah yaitu angina topan, hama belalang, katak dan bencana darah.
Tragedy kemnusiaan juga terjadi pada zaman jahiliyah arab. Bangsa jahiliyah arab  mryakini konsep bahwa tuhan sebagai ayah, mengunggulkan jeb=nis kelamin laki-laki dari pada perempuan dan system patriarkhi. Perlakuan mereka terhadap sesame makhluk sungguh di luar bats kemanusiaan dan bersebrangan dari nilai-nilai ketuhanan. Mereka tega melenyapkan nyawa manusia karena hanya adanya sesuatu yang menjadi beban kabilah.
Wujud dehumanisasi pada zaman jahiliyah ternyata juga trjadi di abad modern kini. Di abad modern kini orng tua tega membunuh anaknya (tidak peduli laki-laki maupun perempuan) karena menanggung malu karena aib perbuatan mereka. Disamping itu pelecehan terhadap perempuan adalah maraknya pornografi dan porno aksi.
Tragedy kemanusiaan pada zaman modern ini semakin berakar dikalangan masayarakat. Aksi teror yang terjadi di berbagai negara dari masa kemasa semakin menjadi-jadi. Yang lebih mengejutkan lagi mereka membawa nama islam dalam aksi terornya. Tujuan utama teror adalah menebarkan ketakutan , sementara dalam Al-qur’an mengatakan bahwa perbuatan teror menggangu masyrakat dan sangat di benci oleh Allah. Mereka yang melakukan teror sebenarnya telah mengeyahkan keinginan tuhan dan mengalihkan ketangannya sendiri. Keputusan itu dalah keputusan manusia bukan keputusan tuhan.
Selain aksi teror yang melanggar hak asai manusia dan nilai-nilai ketuhanan, juga ada perdagangan manusia (human trafficking). Trafficking telah menjadi masalh global dan merambah diberbagi negara. Korban biasaya berasal dari negara miskin dan berkembang. Pedagang ini biasanya memanfaatkan orang-orang yang memburuhkan pekerjaan dan tidak mempunyai pengalaman. Rangkaian trafficking yang dialami oleh korban sejak perekritan hingga pemulangan. Trafficking ini di sebut sebagai perbudakan modern dan mengakibatkan pembunuhan karakter. Sementara syari’at islam melarang perbudakan  karena perbudakan mengarah kepada bentuk kedzaliman dan ekspoloitasi yang dilarng dalam islam. Pedagang manusia ini mengedepankan egonya untuk kepentingannya sendiri dan mengabaikan kesejahteraan dan masa depan orang lain.
Dala konteks kejiwaan, api akan membakar jiwa(nafs) yang akhirnya mendorong manusia untuk menghalalkan berbagai cara untuk mencapai cita-cita. Perusakan diri dari dalam akan sangat berbahaya karena perlahan tapi pasti dan terkadang tanpa disadari. “Api” amarah, “api” keserakahan dan “api” kemunafikan akan mengobarkan ketamakan , keserakahan, dan acuh terhadap orang lain dengan dalil dan dasar agama yang telah didistorsikan.
Tulisan ini muncul dari kegelisahan penulis akan berbagai kegelisaha penulis akan berbagai realitas social terkini yang semakin  bersebrangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Ajaran-ajaran Allah yang telah di tetapkan dalam Al-qur’an dan As-sunnah melalui symbol-simbol dipahami secara sempit oleh sebagian besar umat islam. Pemahaman yang demikian mengakibatkan ajaran agama di buat alasan untuk melakukan aksi-aksi dehumanisasi.
             Buku ini mengkaji di bidang sosiologi, sejarah dan keagamaan. Al-qur’an memberikan alternatife model pemberdayaan yang mengarah pada transformasi kesadaran dan transformasi sosial. Symbol-simbol dari ajaran islam yang di  sampaikan Allah melalui pendekatan historis agar membantu manusia dalam meamahami isi dan spiritnya. Akan tetapi pendekatan historis inilah yang melahirkan berbagai macam produk pemahaman- pemahaman mengeanai normatiifitas Al-qur’an yang terkadang dengan penafsiran tersebut melahirkan asumsi-asumsi yang salah yang pada akhirnya menyimpang dari nilai-niali ketuhaanan dan kemanusiaan
Bahasa dalam buku ini menggunakan bahasa yng komunikatif sehingga para pembaca dapat memahami pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Buku ini juga mampu memberi informasi tragedy-tragedi kemanusiaan dehumanisasi dan melenceng dari nilai-nilai ketuhanan serta memberikan pemanyadaran kepada pembaca untuk mengambil hikmah dari tragedy-tragedi tersebut.
            Kelemahan dari buku ini yaitu ayat-ayat dalam Al-qur’an tidak di tulis secara jelas tetapi hanya ditulis nomor surat dan ayatnya sehingga menyulitkan pembaca untuk mengetahui nama surat, lafadz, serta artinya. Kutipan dari ayat-ayat Al-qur’an hanya di jelaskan kesimpulan atau maksud adri ayat tersebut.


                      


Tidak ada komentar:

Posting Komentar